Kamis, 30 Oktober 2008

Peternakan Sapi ADG

PETERNAKAN SAPI
ADG Meningkat, Untung Diraih



Dalam usaha penggemukan sapi, peningkatan bobot badan harian minimal 1,4 kg harus tercapai agar dapat meraih keuntungan. Pertambahan bobot badan sapi rata-rata per hari (average daily gain-ADG) memang menjadi poin penting yang harus diperhatikan setiap peternak sapi potong jika ingin mencapai keuntungan maksimal. Itulah sebabnya para pelaku bisnis penggemukan sapi selalu berupaya meningkatkan ADG ini.

Menurut Supardi, Ketua Kelompok Penggemukan Sapi "Budi Daya" di Kampung Karang Endah, Terbanggi Besar, Lampung Tengah, penggemukan sapi potong di peternakan anggotanya menghasilkan pertambahan bobot sapi lokal rata—rata 1 kg per hari. Kalau bakalannya sapi impor, ADG-nya dapat mencapai 1,5 kg per hari. Sapi lokal digemukkan selama 120 hari, dari bobot awal 350 kg sampai menjadi 550 kg. Sedangkan, sapi bakalan dengan periode penggemukan selama 70 hari, dari bobot 350 kg menghasilkan bobot akhir 435—450 kg.

Sementara itu Rochadi Tawaf, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) mengatakan, saat ini untuk menghasilkan satu kilogram bobot hidup diperlukan pakan rata-rata sekitar 10 kg (tergantung bobot badan). Sehingga perlu aplikasi teknologi pengolahan pakan guna memacu pertumbuhan bobot badan sapi. “Usaha penggemukan sapi akan menguntungkan jika mampu mencapai ADG 1,4 kg per hari,” jelasnya.

Kualitas dan Kuantitas Pakan

Di lingkup perusahaan, Bambang Hartoyo, General Manager PT Lembu Jantan Perkasa (LJP), perusahaan pembibitan dan penggemukan sapi potong di Serang, Banten, mengungkap contoh upaya mendongkrak ADG. Ia menuturkan, dalam meningkatkan ADG perusahaannya melakukan seleksi bibit, menjaga kualitas pakan, dan manajemen pemeliharaan yang tepat. Saat ini ADG yang dihasilkan pada 4.000—6.000 ekor sapi di kandang telah mencapai 1,2—1,4 kg dalam rentang waktu penggemukan 100—120 hari. “Dengan berbagai upaya itu, produksi ternak naik secara signifikan tanpa menambah biaya produksi terlalu tinggi dan usaha peternakan menjadi lebih efisien,” lanjutnya.

Di kalangan peternak, Supardi menjelaskan, upaya peternak memperbaiki ADG masih tertuju pada asupan pakan yang diberikan. Pasalnya, faktor kuantitas dan kualitas pakan memang merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan. Tak heran bila hampir dua pertiga biaya produksi dianggarkan untuk pengadaan pakan. Selama ini kebanyakan peternak masih belum memenuhi kecukupan pakan, baik jumlah maupun kandungan nutrisinya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, berbagai terobosan telah dilakukan dalam pengolahan pakan guna meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak. Umumnya, dengan membuat hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi), dan awetan hijauan (silase). “Tapi, teknologi yang berkembang di peternak dengan pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga kadar nutrien sesuai dengan kebutuhan gizi yang akan diberikan,” ungkap Supardi.

Rochadi Tawaf, menyarankan peternak perlu menerapkan teknologi yang tepat agar dapat memacu pertumbuhan bobot badan sapi sehingga dapat menghasilkan sesuai dengan ADG yang diharapkan. David Andi, seorang formulator probiotik, menambahkan, salah satu upaya yang dapat meningkatkan produktivitas ternak adalah pemanfaatan probiotik. Pasalnya, probiotik mampu menciptakan keseimbangan mikroflora dalam pencernaan sapi sehingga konversi pakan menjadi daging akan lebih efisien. Pemberian probiotik yang dicampurkan pada pakan bisa meningkatkan ADG sampai 1,6 kg.

Yan Suhendar

Tidak ada komentar: